Arsip Kategori: Sosial n Politik

Si Ksatria Bodong!!

Oh sby…apa sih yang biking dikau diangkat jadi ksatria oleh ratu inggris? kalo ditilik dari prestasi yg dicapai bapak no.1 indonesia ini itu apa aja sih? Emang sih dimata dunia, indonesia kelihatan sebagai negara hebat! bisa disandingkan dengan china n india yg ekonominya lagi tinggi-tingginya, bahkan masuk daftar 20 negara maju n berkembang yg istilah kerenya G-20. SBY juga pinter kalo disuruh membual n memuji-muji kesuksesan negrinya sendiri, biar bisa pamer “sapa dulu dong presidenya?”…tapi gapapalah dari pada jelek-jelekin negrinya sendiri

Tapi itu kan diluar negri, gimana didalem negri…BOBROK!!! setelah diangkat jadi ksatria oleh ratu elizabeth bukanya bertindak jadi ksatria beneran eeh…malah bikin ulah gak jelas lagi! misal kasih grasi keringanan hukuman buat bandar narkoba kelas kakap si ola. Selain itu masih banyak urusan dalam negri lainya lum diselesaiin, n yg terakhir ini lagi-lagi “lembek” sama malaysia. Sudah jelas-jelas tau warganya yg sebagai “pahlawan devisa” diperkosa sama aparat malay eh…si ksatria sby diem aja gak marah sama sekali, blas gak punya wibawa sekali, malu-maluin punya ksatria cemen kayak gini.

Iklan

Facebook Bikin Orang Tambah Kuper

Jika dulu seorang anak akan dibilang kuper atau kurang pergaulan kalau gak tau dunia internet, gak melek teknologi informasi atau gak punya facebook, twitter, my space, friendster n temen-temenya. Hanya orang-orang gaul atau banyak temen saja yang ngerti dunia maya, sedang anak-anak ndeso yang susah menerima teknologi terkini bakalan dianggap gaptek+kuper punya soal seluk beluk teknologi informasi digital. Tapi itu dulu loh, bagaimana dengan sekarang?

IT (Information Technology) sudah kayak menggurita segala aspek kehidupan sosial manusia. Semua lapisan muda-mudi, bapak-bapak, ibu-ibu arisan, simbah-simbah, bahkan anak dibawah umur pun punya akun facebook, itu jika dilihat dari usia loh. Kalau dilihat dari segi sosial kemasyarakatan pun, semua orang juga punya facebook cs dari yang pintar bergaul mudah cari teman n pacar sampai yang pemalu atau gak gaul alias suka menyendiri susah bersosialisasi yang sering disebut kaum kuper (kurang pergaulan).

Yang dipermasalahkan adalah kemudahan dalam bersosialisasi n mencari teman lewat dunia maya melalui facebook inilah yang bikin orang-orang kuper meningkat tajam. Jika dulu sebelum ada facebook, orang-orang yang susah bergaul akan dipaksa buat mencari teman di dunia nyata untuk mendapat teman yang bener-bener nyata. Tapi sekarang tinggal tiduran dikamar atau kos mereka sudah gampang mendapatkan puluhan hingga ratusan teman dalam hitungan gak sampai satu hari tapi di dunia maya. Bahkan mereka (kuper) banyak yang lebih bersemangat n mempunyai teman “tidak nyata” ketimbang orang-orang yang pandai bergaul beneran didunia nyata.

Di facebook, orang-orang kuper didunia nyata biasanya menampilkan status yang berlebihan alias narsis, karena ketidak mampuan mereka dalam ngobrol langsung face 2 face dilampiaskan lewat tulisan-tulisan ekspresi status dalam facebook. Kehadiran situs jejaring sosial gawean Bung Mark Zukenberg ini bagi banyak orang kuper sebagai suatu berkah n penolong kesepian mereka di dunia nyata. Mereka bisa show off didepan umum tampa bersusah payah berbicara lewat mulut yang nyata. Nyali kecil mereka untuk ngobrol dengan lawan jenis yang ditaksir pun bisa terobati lewat fasilitas chating massenger via facebook, YM, eBuddy, mirc n yang lain-lain.

Mereka juga merasa lebih nyaman ngorbrol lewat internet ketimbang ngobrol langsung didepan mata. Hal ini juga bikin “penyakit” kuper susah dihilangkan malah menambah kronis tuh kuper. Temanku yang termasuk “mengidap” kuper malah lebih jago merayu cewek lewat facebook atau chating YM dengan nada romantis abis sampai rada-rada piktor (pikiran kotor) dibanding orang lain yang sudah biasa ngajak ngedate beneran didunia nyata. Hasilnya, temanku yang kuper itu tetap aja lum punya pacar sama sekali, la kalau mau nembak cewek tetap aja harus ngobrol langsung sedang dia gak punya nyali sedikitpun kalau di dunia nyata, ironis bukan.

Padahal secangging-canggihnya teknologi informasi social network dunia maya tetap tidak bisa menandingi kenikmatan social network dunia nyata seperti bercanda antar mulut, bersentuhan, berpelukan, kencan, ciuman, sex n lain-lain.

Jadi kamu masih mau tetap bergumul didunia maya saja?

Mengenang Gus Dur: Kuli dan Kyai

https://i1.wp.com/farm5.static.flickr.com/4010/4353830261_4249023caf.jpgRombongan jamaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dari Yaman berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius dalam bahasa Arab.

Melihat itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka, sambil berucap: Amin, Amin, Amin!

Gus Dur yang sedang berada di bandara itu menghampiri mereka: “Lho kenapa Anda berkerumun di sini?”

“Mereka terlihat sangat fasih berdoa, apalagi pakai serban, mereka itu pasti kyai.”

Nafsu Pejabat DPR Bikin Istana di Negeri Miskin

Yah begini lah cermin budaya di negeri para bedebah. Ngakunya punya duit  banyak padahal duit utang, ngakunya pinter cari duit padahal cuma pinter korup, ngakunya memakmurkan rakyat padahal memakmurkan perutnya sendiri, ngakunya mencerdaskan bangsa padahal menggoblokan rakyatnya sendiri.

Sekarang anggota DPR lagi pengin punya istana yang super megah, buat mamerin ke rakyatnya kalo wakilnya bisa bikin gedung pencakar langit megah n mewah gak kalah sama wakil rakyat di luar negeri. Soalnya kepingin kayak di Uni Eropa yang abis bangun gedung super mewah buat para dewan rakyat sana. Dengan semangat n tekad bulat plus bantuan 100% duit rakyat, para dewan antusias bikin kantor super mewah meski rakyat yang sebagai “donatur” berteriak menentangnya, mereka (rakyat) sudah repot-repot memilih wakilnya supaya berharap besok kalo dah kepilih gak lupa ma janjinya memakmurkan rakyatnya eh malah lupa diri n menikmati duit rakyat buat berfoya-foya.

Apa sih prestasi para DPR ini? Kalau disuruh rapat malah tidur, kalo gak boleh tidur besoknya bolos. Lalu gimana yah kalo dapet gedung baru yang lebih nyaman n nikmat fasilitasnya? Seperti adanya kolam renang n spa, ntar kalo abis rapat alasanya kecapean pas rapat (padahal tidur nyenyak) langsung deh nyebur renang, trus mampir spa buat memanjakan diri, trus tidur lagi pas rapat. Hmm…bener-bener impian para dewan nih. Tapi di negeri para bedebah emang sudah lazim para pejabatnya ingin kerja santai tapi dapet duit banyak gak peduli yang kasih duit rakyatnya yang masih kelaperan, susah cari kerjaan, transportasi masih amburadul, kriminal merajalela n kesusahan-kesusahan lain.

Ck..ck..ck…hanya ada di Indonesia…ironis

Ayo ikutin polling tentang “Pendapat anda DPR membangun gedung baru super mewah”

Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy (Kisah Nyata)

Suatu sore, ditahun 1525 Masehi. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ serasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan. Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu ‘jenggel’ milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. “Hai…hentikan suara jelekmu! Hentikan…!” Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata. Namun, apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang.

‘Algojo penjara’ itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Sungguh ajaib… Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata, “Rabbi, waana’abduka. ..” Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustadz…Insya Allah tempatmu di Syurga.”

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak amarahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai.

“Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan ’suara-suara’ yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami.”

Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap, “Sungguh…aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.”

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat diwajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun, tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. “Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!” bentak Roberto. “Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!” ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto, mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.

Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung. “Ah…sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini.” suara hati Roberto bertanya-tanya.

Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol.

Akhirnya, Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.

*********************************************************

Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab)digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara, ditengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah ditiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti ibunya. Sang bocah berkata dengan suara parau, “Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam, bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa….? Ummi,cepat pulang ke rumah ummi…” Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.

Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya ” Abi…Abi… Abi…” Namun, ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

“Hai…siapa kamu?!” teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah. “Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi…” jawab sang bocah memohon belas kasih. “Hah…siapa namamu bocah, coba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka. “Saya Ahmad Izzah…” sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi. Tiba-tiba plak! sebuah tamparan mendarat dipipi sang bocah. “Hai bocah…! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’ ..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki2 itu. Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

*********************************************************

Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeris, “Abi…Abi.. .Abi…” Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.

Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam menggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam’ pada bahagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi.. aku masih ingat alif, ba, ta, tsa…” Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.

“Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu…” Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah. Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap.” Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Disana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,” Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyahadu anla Illaaha ilallah,waasyhadu anna Muhammad Rasullullah…” Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, ‘Islam’, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya… ” Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Benarlah firman Allah…”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS 30:30).

SBY Gagah Luarnya, Kecil Hatinya, Ciuuut Nyalinya

Jika banyak masalah dalam negeri, seperti kasus video porno, ibu Prita, KPK, dan lain-lain, beliau sungguh tanggap, tapi kalo ada masalah dengan negeri lain khususnya si malingsia (istilah keren malaysia) sikap tegas dan gagah berani SBY langsung mengendor, nyali pun langsung menciuut.

Setelah dengerin pidato pak SBY soal sikap menghadapi malingsia, masyarakat Indonesia yang sudah dibuat geram menunggu sikap tegas satu-satunya pemimpin Indonesia pak SBY terhadap kelakuan malaysia eh pidatonya cuman “adem ayem”, gak ada nada keras keluar dari mulut SBY yang ada hanya sikap melow-melow bikin ngantuk yang denger. Yah minimal pidatonya aja yang berapi-api, bersemangat melindungi bangsa dan martabat negeri ini, mungkin dengan ancaman-ancaman kepada malingsia supaya gak neko-neko, atau dengan gerakan yang provokatif seperti gerakan ganyang malaysia oleh bung karno.

Gerakan ancam mengancam sebenarnya sudah lazim dilakukan antar negara yang lagi memanas meskipun toh cuma bualan belaka dan gak jadi perang beneran. Misal, india vs pakistan yang selalu memanas tapi nyatanya belum ada yang memulai “pegang senjata” karena sebenarnya cuma perang urat syaraf belaka. Iran vs israel yang jelas-jelas saling bermusuhan tapi cuma bisa saling mengancam dan ejek-ejekan. Paling hebat tentu amerika dan uni soviet yang sama sekali gak pernah kontak senjata sedikitpun. Jadi seumpama Indonesia marah atas kelakuan malaysia dengan tindakan profokativ mengancam kontak militer sekalipun sebenarnya cuma buat nunjukin kalau Indonesia masih punya harga diri jika rakyatnya dilecehkan negeri lain.

Malaysia yang cuma didemo dilempari ee’ manusia aja bisa marah-marah dan mengancam Indonesia tapi Indonesia yang sudah diremehkan lebih dulu dengan ditangkap dan dilecehkan 3 petugas kelautan yang jelas-jelas sedang bertugas melindungi tanah air, eh SBY malah menenangkan kemarahan rakyat Indonesia dan milih jalur diplomasi damai karena nyalinya yang ciut ketakutan kalau malaysia mendeportasi TKI. Selalu TKI yang dikambing hitamkan buat menutupi ketakutan dan lemahnya diplomasi pemerintah Indonesia padahal kalau ada TKI yang sengsara pun pemerintah tetep tinggal diam gak bisa melindungi hak-hak TKI.

Indonesia merindukan sosok pemimpin yang tegas, super heroik dan disegani semua bangsa seperti bung karno, meskipun sebenarnya AS jauh lebih kuat dari pada Indonesia tapi ketegasan bung karno membuat AS gak berani neko-neko apalagi si kecil malay. Gak seperti sekarang, meskipun amerika menganggap Indonesia negara yang penting tapi bagi AS Indonesia mudah banget “diobok-obok” kepentingan dalam negerinya dan tunduk sama amerika. Selain amerika, Indonesia dianggap remeh dan gampang diatur oleh china, rusia, australia, arab, dan si malingsia keparat tadi.

Rasanya pengin marah, kecewa, malu sama sikap SBY yang cemen tapi ya gimana cuma dia pemimpin negeri ini, yang terlanjur kucoreng wajahnya saat pemilu kemarin.

Ck ck ck SBY oh SBY…

Baca juga:

Republik Sableng…

Saat kasus century diungkap KPK lalu dilanjutkan aksi DPR membuat Pansus alias “Pasukan Khusus” eh “Panitia Khusus” hak angket century yang berusaha mendepak Bu Sri Mulyani dan Pak Boediyono  dari kabinet, aku sangat tertarik menikmati perkembangan berita demi berita yang menghebohkan perpolitikan Indonesia ini. Khususnya saat Sri Mulyani dan Boediyono dituduh dalang dari kasus boilout bank pesakitan century, rakyat Indonesia begitu bersemangat menyalahkan Sri Mulyani dan Boediyono sebagai penanggung jawab kekisruhan century dan kerugian negara 6-7 trilyun rupiah akibat boilout tersebut. Bahkan para mahasiswa pun begitu mendukung aksi DPR mengganggu Bu Sri Mulyani dan Pak Boediyono yang menjabat sebagai menteri keuangan dan wakil presiden Indonesia. Presiden pun kebingungan akan membela “kedua anak buahnya” atau menuruti DPR sebagai penyokong koalisi partainya.

Memang sih kalau dilihat dari satu kasus century, Bu Sri Mulyani dan Pak Boediyono terlihat sebagai tokoh yang harus tanggung jawab menghabiskan uang negara Rp 6 trilyun. Meskipun berdalih untuk menyelamatkan krisis ekonomi negara supaya kebangkrutan bank century tidak berimbas ke bank-bank lain, alasan itu tetap tidak relevan karena bank century merupakan bank kecil sehingga jika dibiarkan bangkrut tidak akan “menjangkiti” bank-bank lain. Toh nyatanya kini bank century tetap kolaps.

Tapi jika ditelusuri lebih jauh kenapa anggota DPR begitu semangat mengusik Bu Sri Mulyani dan Pak Boediyono, terutama Bu Sri Mulyani. Karena Sri Mulyani lah yang sering bikin pejabat senayan kebakaran jenggot, salah satunya Aburizal Bakrie alias Ical. Dan Bu Sri Mulyani juga lah yang berhasil mereformasi departemen keuangan dan birokrasi keuangan. Selain itu Bu Sri Mulyani juga yang mengetatkan aturan pajak supaya para wajib pajak khususnya kelas kakap bisa tertib pajak, sehingga hal itu bikin para pengemplang pajak kesulitan bermain curang, seperti perusahaan-perusahaan milik Grup Bakrie.

Kini setelah Bu Sri Mulyani meninggalkan pos menteri keuangan dan memilih sebagai direktur pelaksana World Bank alias Bank Dunia, para DPR dapat berleha-leha kembali dan tidak mengusik kasus century lagi, karena tujuan utamanya sudah kelar yaitu mendepak Bu Sri Mulyani dari kabinet SBY. Lalu setelah semua kembali tenang, tiba-tiba koalisi partai pemerintah SBY membentuk sekretariat gabungan partai koalisi dengan alasan sebagai sarana komunikasi dan “urun rembuk” antara pemerintah dengan partai koalisi. Ketua umum tentu saja SBY tetapi ketua harian dipegang bung Ical sapaan akrab Aburizal Bakrie. Dan kabarnya bung Ical diberi kekuasaan oleh big boss SBY dapat memanggil menteri negara tanpa ijin presiden terlebih dahulu. Meskipun Pak Bakrie menolak anggapan kedudukan ini bukan seperti perdana menteri, tetapi kekuasaan seperti itu jelas bisa digunakan mendekte pemerintah dan mengusik kinerja pemerintah sekehendak dia sendiri.

Dan hubungan kekuasaan antara SBY dengan bung Ical ini jelas bisa menyuburkan kolusi dan nepotisme seperti era orde baru. Dampaknya pun sudah terlihat, seperti perusahaan-perusahaan Grup Bakrie yang dituduh mengemplang pajak kini sudah tidak diusik lagi oleh pemerintah.

Yah semoga saja menteri keuangan yang baru dilantik sekarang tetap teguh memberantas korupsi, menertibkan pajak, dan birokrasi ekonomi negara. Dan semoga situasi seperti ini tidak berlarut-larut hingga negeri ini rusak dan bobrok menjadi Republik Sableng.