Republik Sableng…

Saat kasus century diungkap KPK lalu dilanjutkan aksi DPR membuat Pansus alias “Pasukan Khusus” eh “Panitia Khusus” hak angket century yang berusaha mendepak Bu Sri Mulyani dan Pak Boediyono  dari kabinet, aku sangat tertarik menikmati perkembangan berita demi berita yang menghebohkan perpolitikan Indonesia ini. Khususnya saat Sri Mulyani dan Boediyono dituduh dalang dari kasus boilout bank pesakitan century, rakyat Indonesia begitu bersemangat menyalahkan Sri Mulyani dan Boediyono sebagai penanggung jawab kekisruhan century dan kerugian negara 6-7 trilyun rupiah akibat boilout tersebut. Bahkan para mahasiswa pun begitu mendukung aksi DPR mengganggu Bu Sri Mulyani dan Pak Boediyono yang menjabat sebagai menteri keuangan dan wakil presiden Indonesia. Presiden pun kebingungan akan membela “kedua anak buahnya” atau menuruti DPR sebagai penyokong koalisi partainya.

Memang sih kalau dilihat dari satu kasus century, Bu Sri Mulyani dan Pak Boediyono terlihat sebagai tokoh yang harus tanggung jawab menghabiskan uang negara Rp 6 trilyun. Meskipun berdalih untuk menyelamatkan krisis ekonomi negara supaya kebangkrutan bank century tidak berimbas ke bank-bank lain, alasan itu tetap tidak relevan karena bank century merupakan bank kecil sehingga jika dibiarkan bangkrut tidak akan “menjangkiti” bank-bank lain. Toh nyatanya kini bank century tetap kolaps.

Tapi jika ditelusuri lebih jauh kenapa anggota DPR begitu semangat mengusik Bu Sri Mulyani dan Pak Boediyono, terutama Bu Sri Mulyani. Karena Sri Mulyani lah yang sering bikin pejabat senayan kebakaran jenggot, salah satunya Aburizal Bakrie alias Ical. Dan Bu Sri Mulyani juga lah yang berhasil mereformasi departemen keuangan dan birokrasi keuangan. Selain itu Bu Sri Mulyani juga yang mengetatkan aturan pajak supaya para wajib pajak khususnya kelas kakap bisa tertib pajak, sehingga hal itu bikin para pengemplang pajak kesulitan bermain curang, seperti perusahaan-perusahaan milik Grup Bakrie.

Kini setelah Bu Sri Mulyani meninggalkan pos menteri keuangan dan memilih sebagai direktur pelaksana World Bank alias Bank Dunia, para DPR dapat berleha-leha kembali dan tidak mengusik kasus century lagi, karena tujuan utamanya sudah kelar yaitu mendepak Bu Sri Mulyani dari kabinet SBY. Lalu setelah semua kembali tenang, tiba-tiba koalisi partai pemerintah SBY membentuk sekretariat gabungan partai koalisi dengan alasan sebagai sarana komunikasi dan “urun rembuk” antara pemerintah dengan partai koalisi. Ketua umum tentu saja SBY tetapi ketua harian dipegang bung Ical sapaan akrab Aburizal Bakrie. Dan kabarnya bung Ical diberi kekuasaan oleh big boss SBY dapat memanggil menteri negara tanpa ijin presiden terlebih dahulu. Meskipun Pak Bakrie menolak anggapan kedudukan ini bukan seperti perdana menteri, tetapi kekuasaan seperti itu jelas bisa digunakan mendekte pemerintah dan mengusik kinerja pemerintah sekehendak dia sendiri.

Dan hubungan kekuasaan antara SBY dengan bung Ical ini jelas bisa menyuburkan kolusi dan nepotisme seperti era orde baru. Dampaknya pun sudah terlihat, seperti perusahaan-perusahaan Grup Bakrie yang dituduh mengemplang pajak kini sudah tidak diusik lagi oleh pemerintah.

Yah semoga saja menteri keuangan yang baru dilantik sekarang tetap teguh memberantas korupsi, menertibkan pajak, dan birokrasi ekonomi negara. Dan semoga situasi seperti ini tidak berlarut-larut hingga negeri ini rusak dan bobrok menjadi Republik Sableng.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: