Saat Pemimpin Lupa Bahkan Tidak Peduli Dengan Rakyatnya

100 hari kepemimpinan SBY-Budiono sudah terlewati, banyak masalah yang belum terselesaikan justru bertambah masalah baru yang lebih rumit dan njlimet. Semakin banyaknya masalah yang menjangkiti rakyatnya justru para elite politik alias pejabat pemerintahan justru bersenang-senang dan merasa kinerja mereka sudah memuaskan lalu “merayakannya” dengan berfoya-foya membelanjakan duit rakyat untuk dinikmati sendiri.

Masalah ekonomi, kemiskinan, pengangguran yang belum teratasi tuntas, “belang” kinerja pemerintah karena kasus skandal Bank Century, korupsi yang makin menjadi-jadi karena pelakunya merasa lebih kuat dibanding pemberantas korupsi seperti KPK, dan juga pelemahan KPK sendiri oleh oknum-oknum berkuasa, itu merupakan segelintir “penyakit” yang masih diderita Republik Indonesia ini, belum masalah penegakan HAM, kebebasan berpendapat, kriminal, birokasi, ketersediaan listrik dan masih banyak lagi. Tetapi sambil tutup mata – tutup telinga, para pejabat menteri tega-teganya meminta gaji mereka naik 5% disaat rakyat makin miskin dan makin kelaparan karena sulitnya beli beras, selain gaji naik, para pembantu presiden ini juga tidak segan-segan meminta mobil dinas super mewah berharga Rp1,3 Milyar!! Toyota Crown Royal Saloon yang dibeli dengan uang rakyat. Selain menteri, Presiden SBY pun tidak mau kalah dengan pembantunya yaitu kepingin membelanjakan pesawat jet pribadi super mahal dan lagi-lagi dengan uang negara alias duit rakyat. Padahal selama ini Presiden memakai pesawat sewaan dari penerbangan nasional Garuda tidak ada masalah sama sekali dan jauh lebih terjangkau ketimbang beli sendiri.

Di luar semua itu rakyat yang menjadi seponsor utama penyumbang pajak untuk negara semakin susah saja memenuhi kebutuhan pokok untuk diri sendiri dan keluarganya. Khususnya rakyat miskin yang dulu sudah dapat menikmati beras, sekarang harus menggantinya dengan nasi aking yang biasanya buat pakan bebek, atau singkong, ketela, ubi-ubian yang gizinya jauh dibawah nasi. Mungkin memang benar paribahasa Jawa “wis diparingi ati, ngrogoh rempelo” atau “sudah dikasih hati, masih ngambil rempela” yang artinya sudah dikasih kekuasaan oleh rakyatnya masih tidak puas dan kepingin ngambil uang rakyatnya sampai habis dinikmati sendiri.

Ironis…

Ayo ikuti polling dengan tema “Bagaimana menurut anda kinerja pemerintah selama ini?”

7 thoughts on “Saat Pemimpin Lupa Bahkan Tidak Peduli Dengan Rakyatnya

  1. romailprincipe 27 Februari 2010 pukul 21:59 Reply

    beres atau tidak, kadang pekerjaannya sulit sih..tapi memihak rakyat atau tidak jelas sekali oleh fakta berikut :
    Jet Pribadi
    Mobil Baru
    Tunjangan
    Kenaikan Gaji PNS yang disembunyikan dalam bentuk renumerasi kuartal
    Menutupi kasus Century

    Makanya, 60% pemilih tertipu oleh lanjutkan sih!!!
    Atau 60% itu angka dari langit?

    • ardyanet 4 Maret 2010 pukul 17:20 Reply

      klo pekerjaanya sulit ya hrsnya prihatin dong…

  2. gembala 13 April 2010 pukul 20:11 Reply

    kebo dipercaya…

  3. Shatura 6 Mei 2010 pukul 01:41 Reply

    Yang ngerasa milih SBY-BUDIONO NGACUNG (=tunjuk jari) !!!!!!
    Nyesel ya ????

    Terlambat bung !!!!
    dr zaman orba,apa ada yg beres tumpuk pimpinan tertinggi dipilih dari golongan Militer ???
    knapa bkn ahli sipil or masyarakat biasa ???
    Terbukti ktika dipimpin oleh Ir. Soekarno kita disegani oleh amerika,tapi skarang ????

    Hanya anekdot pribadi tapi bisa jd bahan renungan sedikit…
    thank’s admin……………

  4. Inayah 3 Januari 2014 pukul 00:13 Reply

    jika memeng begitu,lebih baik kita berdo’a saja supaya tidak ada pemimpin yang seperti itu lagi untuk kedepannya dan Indonesia bisa lebih maju,,,,
    percuma juga kan kita ngomongin dibelakang?
    toh belum tentu kita bisa menjadi pemimpin yang bersih dari hal semacam itu???
    itupun jika mempunyai kesempatan menjadi pemimpin, jika tidak? betapa rendahnya diri kita,,,,,

    • Inayah 3 Januari 2014 pukul 00:15 Reply

      jika memeng begitu,lebih baik kita berdo’a saja supaya tidak ada pemimpin yang seperti itu lagi untuk kedepannya dan Indonesia bisa lebih maju,,,,
      percuma juga kan kita ngomongin dibelakang?
      toh belum tentu kita bisa menjadi pemimpin yang bersih dari hal semacam itu???
      itupun jika mempunyai kesempatan menjadi pemimpin, jika tidak? betapa rendahnya diri kita,,,,,

      hehe,,,maaf,,,,

    • ardyanet 25 Januari 2014 pukul 14:12 Reply

      setuju banget bro!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: