“Benar Jadi Salah, Salah Jadi Benar” Bagian 1

Zaman orde baru merupakan zamannya paling kelam bagi dunia kebenaran dan kejujuran, sesuatu yang sudah pasti kebenarannya akan menjadi suatu kesalahan yang pasti, hukumpun akan membela orang-orang yang jelas melakukan kesalahan dan menghukum orang-orang yang melakukan kebenaran di jalur hukum. Teori ini sudah menjadi mutlak berlangsung bertahun-tahun saat orde baru bahkan masih terjadi hingga saat ini. Abdul Saman atau sering disapa Saman merupakan salah satu dari sekian banyak korban lainnya yang sudah merasakan dan membuktikan teori ini benar ada di negeri seribu pulau ini.

Saman mempunyai profesi sebagai buruh kuli sebuah pabrik kecil bagian pengapuran di daerah Jawa Tengah. Dia tidak pernah sekolah dan buta huruf, tetapi tidak pernah putus asa dalam mencari nafkah untuk keluarganya khususnya menyekolahkan kedua anaknya, mereka bernama Teguh berumur 13 tahun kelas 2 SMP dan Dika berumur 8 tahun masih kelas 3 SD. Sedangkan istrinya hanya di rumah dan mengurusi anaknya yang masih berumur 1 tahun. Sebenarnya sang istri ingin membantu suaminya mencari uang, tetapi tidak diperbolehkan oleh Saman, karena kedua mata istrinya buta dan akan menyulitkan istrinya jika memaksakan bekerja.

Saat Saman diajak temannya mengadu nasib ke kota Semarang untuh mencari nafkah yang lebih baik hanya bermodalkan dengkul, sang istri merasa keberatan ditinggal suaminya, dia mempunyai firasat tidak baik saat suaminya hendak pergi keluar rumah. Tetapi istrinya pasrah karena tidak mempunyai alasan melarang suaminya pergi, dan kalau batal pergi maka tidak akan bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya yang semakin mahal biaya SPPnya. Untuk itu Saman tetap bertekad bekerja keras, mau melakukan apapun untuk menghidupi keluarganya asalkan pekerjaan itu tidak haram.

Setelah sampai di Semarang, karena Saman seorang buta huruf maka dia sangat bergantung kepada temannya yang mempunyai profesi serupa Saman dan tujuan yang sama ketika pergi ke kota lumpia yaitu memperbaiki nasib keluarganya. Teman Saman yang bernama Badrun ini ternyata mendapat informasi lowongan kerja dari kenalan barunya saat minum kopi di warung dekat pabrik dia bekerja, ia bernama Zulkarnaen. Setelah dicari dan bertanya-tanya alamatnya, akhirnya mereka menemukan rumah kenalan Badrun itu dan menemuinya.

Setelah menyetujui dan menerima pekerjaan barunya, Saman yang kini berprofesi nyaris sama seperti dulu sebagai kuli hanya berbeda bidangnya yaitu kuli bangunan khususnya semen, pergi ke “kantor” barunya yang lebih mirip gudang kopra, sedangkan Badrun tidak bekerja satu pabrik dengan Saman. Dan kini gaji Saman juga lebih “manusiawi” ketimbang saat di desa, ia pun sangat bersyukur mendapat penghasilan lebih banyak dari pada dahulu sehingga dapat ditabung untuk masa depan anak-anaknya. Kini dia menginap di rumah sewaan “super murah” dan “super minim” bersama Badrun dan 2 kawan pekerja lainnya.

Suatu hari saat pulang kerja, karena saat itu pekerjaannya sedikit Saman bisa pulang lebih cepat dari jadwal biasanya, dia melewati daerah Simpang Lima yaitu tempat prostitusinya kota Semarang yang sudah dikenal banyak warga Semarang. Di tengah jalan dia menemukan sebuah tanda pengenal atau KTP, sayang karena buta huruf dia bingung nama dan alamat pemilik KTP ini. Karena tidak mau ambil pusing, Saman pergi ke kantor polisi untuk menyerahkan KTP ini ke pihak berwajib. Sesampai disana, seperti biasa para polisi dengan alasan sibuknya menyuruh Saman untuk menunggunya, dia pun menurutinya dan duduk menunggu dengan sabar hingga sore hari. Akhirnya pak polisi menyuruhnya masuk ke ruangannya dan meminta KTP yang ditemukan Saman. Tiba-tiba pak polisi kaget setelah melihat nama pemilik KTP itu, lalu dia menanyakan kepada Saman dimana dia menemukan KTP itu, dan setelah mendapatkan jawabannya pak polisi itu justru bertambah kaget. Kemudian polisi berkumis tebal ini menatap tajam wajah Saman dan menanyakan pertanyaan yang sama seakan tidak percaya dengan jawaban kuli bangunan ini. Kemudian Saman gantian bertanya kepada pak polisi KTP ini milik siapa dan setelah dijawab dia juga kaget karena KTP ini ternyata milik seorang pejabat penting di kota lumpia ini, yaitu milik Hakim Agung Semarang. Hari semakin malam masalah pun makin runyam, polisi justru tidak percaya perkataan Saman tentang tempat penemuan KTP ini dan menuduh Saman mencurinya lalu berusaha menjebak Hakim Agung. Tetapi dengan lugunya Saman berusaha menjelaskan secara detil penemuan ini dan mengatakan mustahil kalau mencurinya karena dia sendiri buta huruf, sayang polisi justru tambah tidak yakin kalau Saman buta huruf dan menuduh hanya berpura-pura. Lalu polisi itu meninggalkan tempat duduk sebentar untuk berdiskusi dengan teman-temannya, Saman tidak bisa mendengar apapun yang sedang didiskusikan mereka karena dia hanya disuruh tetap duduk menunggu dan tidak boleh kemana-mana. Saman merasa sedih dan takut kalau akan terjadi sesuatu yang menimpa dirinya, dia ingin segera masalah ini selesai dan cepat pulang untuk istirahat.

—-> Bersambung ke Bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: