“Benar Jadi Salah, Salah Jadi Benar” Bagian 2

Terusan dari Bagian 1

Setelah para polisi selesai berdiskusi, mereka mendekati Saman dan menawari sebuah solusi licik untuk menyelesaikan permasalahan ini yaitu menyuruh Saman memberi “sesuatu” untuk mereka agar masalah ini cepat selesai dan Saman terbebas dari segala tuduhan, “sesuatu” ini jelas berupa uang pelicin sebesar 5 juta rupiah. Uang segitu bagi orang berprofesi kuli seperti Saman jelas sangatlah besar dan sulit mendapatkan dalam waktu dekat, Saman pun terus memohon untuk segera dipulangkan dan tidak dibebani macam-macam. Akhirnya besaran uang permintaan polisi sedikit demi sedikit diturunkan hingga menjadi 1 juta, dan Samanpun tetap memohon untuk diampuni kesalahannya tanpa dimintai imbalan karena memang tidak mempunyai harta sebanyak itu. Akhirnya polisi-polisi itu marah dan muntab kepada Saman karena gagal membujuknya memenuhi keinginan memperkaya isi dompet para polisi masyarakat itu, lalu melemparkan segala macam tuduhan kepada Saman yaitu menjebak dengan mencuri KTP Hakim Agung agar tercemar nama baiknya dan menghina kepolisian dengan berpura-pura buta huruf, sebuah tuduhan yang tidak masuk akal. Kemudian Saman dijatuhi hukuman penjara 6 tahun dan berhak memperoleh pengacara. Sayangnya Saman hanyalah wong cilik yang tidak mempunyai kenalan pengacara atau kalaupun dapat mencari pengacara, Saman tidak mungkin sanggup membayar jasa seorang pengacara. Akhirnya polisi memberikan kemudahan yaitu akan dicarikan pengacara tanpa harus membayar, tentunya pengacara ini dipilih dari orang-orang yang mempunyai hubungan dekat dengan para polisi dan akan memihak kepolisian. Karena Saman adalah orang desa yang masih sangat “lugu” hanya menerima saja usul polisi dan justru berterimakasih karena tidak perlu menggaji pengacara itu.

Tengah malam Saman menginap di tahanan kepolisian, dan esok paginya datanglah seorang pengacara yang sudah dijanjikan polisi. Setelah Saman bertemu dan menjelaskan semua masalah kepada pengacara itu, Saman sangat menaruh harapan pertolongan pengacara itu. Tetapi jawaban sang pengacara sangat singkat dan mengecewakan, yaitu menyuruh Saman untuk mengaku semua kesalahan kepada kepolisian agar hukuman diperingan, sedangkan Hakim Agung tidak tercoreng namanya kalau terlibat masalah ini, dia juga menerangkan kalau posisi Saman sangatlah sulit dan menjelaskan kalau bermasalah dengan Hakim Agung jelaslah tidak mungkin untuk dimenangkan, karena di pengadilan negeri ini Hakim Agunglah yang paling berkuasa apalagi lawannya hanyalah kuli bangunan yang sama sekali tidak mempunyai kolega dan dukungan yang kuat dari belakang. Saman akhirnya menyerah dan tertunduk lesu mendengar semua penjelasan dari pengacara, dia terpaksa mengakui semua kesalahan yang dituduhkan polisi dan mendapatkan hukuman “hanya” 3 tahun penjara, setengah dari hukuman semula. Dia memikirkan keluarganya yang ditinggalkan di desa, dan sedih karena anak-anaknya pasti akan kesulitan dalam melanjutkan studinya di sekolah.

Badrun disuruh Saman menyampaikan musibah yang menimpa dia kepada keluarganya dan memberitahukan keadaannya baik-baik saja. Setelah 3 hari Badrun kembali mengunjungi Saman dan mengatakan istrinya sangat sedih dan terus menangis setelah mendengar kabar tentang suami yang dicintainya, sedangkan anaknya yang masih SMP tadinya ingin memberi kabar gembira kepada ayahnya kalau mendapat rangking 2 di kelasnya justru ikut menangis dan marah kepada nasib yang menimpa keluarganya sekaligus sangat membenci setiap polisi yang ditemuinya.

Setelah 6 bulan mendekam di penjara dan tidak mengetahui kabar keluarganya, Saman meminta Badrun untuk pergi ke desa menengok keluarganya, Badrun pun menerima dengan senang hati permintaan kawannya ini. Setelah seminggu lamanya Badrun pulang ke desa akhirnya balik ke kota Semarang dan menceritakan semua keadaan di desa kepada sahabatnya yang sedang diuji ketabahannya di penjara. Saman sudah dapat menduga tentang kabar dari keluarganya ketika melihat wajah sedih Badrun saat menceritakannya. Istri Saman kini tetap berada di rumah dan tidak dibolehkan bekerja di luar oleh anaknya yang pertama, sebagai pengganti nafkah dari ayahnya Teguh rela melepaskan “bangku kursinya” di SMP kesayangannya untuk alih profesi sebagai pengamen, selain itu dia juga mengumpulkan botol-botol dan barang bekas lainnya untuk dijual kembali demi memenuhi kebutuhan keluarganya termasuk menyekolahkan adiknya yang masih SD, meskipun adiknya juga sering membantunya berjualan dan kadang kala ikut “berpetualang” ngamen di jalanan. Saman mendengar semua itu langsung menangis dan meratapi nasib keluarganya kenapa begitu menderita dan sengsara hanya karena ketidakadilan hukum di negeri ini.

Setelah teman satu sel Saman mendengar semua musibah yang menimpa Saman, dia menasehati untuk terus bersabar dan menjelaskan kalau kehidupan di negeri ini lebih mirip kehidupan di hutan yaitu menganut hukum rimba, siapa yang kuat akan menang dan akan terus berjaya sedangkan yang lemah akan terus tertindas oleh orang-orang kuat ini. Dan menjelaskan suatu teori yang sangat terkenal hanya di negeri republik ini yaitu perbuatan benar akan dianggap salah, sedangkan berbuat salah akan dianggap benar.

5 thoughts on ““Benar Jadi Salah, Salah Jadi Benar” Bagian 2

  1. […] Bersambung ke Bagian 2 Categories: Politik Komentar (0) Lacak Balik (0) Tinggalkan komentar Lacak […]

  2. saman 22 April 2010 pukul 03:30 Reply

    lhaa.. *_* nee khan kisah gw..np di publish??

    • ardyanet 8 Mei 2010 pukul 01:42 Reply

      ah jangan asal lah mas/mbak, nama “saman” kan cuma karangan saya saja

  3. Kurnia Septa 21 November 2010 pukul 14:07 Reply

    cerita yg menarik gan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: