Comicers VS Novelers

Suatu sore aku terlibat dalam suatu diskusi yang dilanjutkan dengan perdebatan dua golongan antara penggemar comic dengan pembaca setia novel-novel. Meskipun aku bukan termasuk kedua-duanya karena aku tipe manusia bukan idealis yaitu semua bacaan entah itu novel ataupun comic yang kuanggap menarik akan kubaca. Dan saat mendengarkan perdebatan mereka ternyata banyak hal-hal menarik yang kudapat.

Bagi maniak comic, membaca novel merupakan kegiatan yang menjemukan, membosankan dan monoton, apalagi jika halamannya super tebal, mereka juga menganggap pembaca novel tidak bisa berekspresi karena hanya bisa membaca tulisan bukan hal lainnya(gambar). Sedangkan bagi penggemar novel menganggap para maniak comic ini tidak suka berpikir keras dan hanya suka menerima masukan informasi yang sudah jelas maknanya, selain itu mereka menganggap para pembaca comic tidak suka bahkan tidak bisa berimajinasi sendiri karena hanya menerima gambaran yang sudah ada di comic.

Dan menurutku sendiri dari sikap dan sifat keduabelah pihak yang bisa mewakili seluruh penggemar comic maupun novel, mereka memang sudah ditakdirkan bagaikan air dan api, langit dan bumi atau hitam dan putih, saling bertolak belakang 360 derajat. Aku melihat kalau pelahap comic memang orangnya tidak kreatif karena mereka hanya bisa menerima “mentah-mentah” apa yang sedang dibacanya, lagi pula comic yang beredar di indonesia hampir 80% berasal dari Jepang, sehingga mereka lebih suka meniru gaya hidup aliran jejepangan seperti JRock, harajuku dan lain-lain. Kalaupun mereka bisa menciptakan comic sendiri biasanya hanya condong ke arah aliran Jepun bukan menciptakan karya dengan ciri khas tersendiri. Tapi dari sisi sosial, mereka lebih mengedepankan life style yang lebih uptodate ketimbang penggemar novel, mereka juga lebih mudah bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Sedangkan dari pihak “novel lovers” mereka jika berbicara maka bahasa yang keluar dari mulutnya lebih bernada filosofis dan akan sulit diterima bagi orang awam, sehingga mereka sedikit kesulitan saat bersosialisasi dengan masyarakat umum, hanya dengan orang-orang yang “berjenis” sama. Kebanyakan mereka juga termasuk golongan dari masyarakat konservatif, yaitu sulit menerima pendapat baru yang lebih “segar”, sehingga kehidupannya cenderung lebih monoton. Tetapi kalau membicarakan soal imajinasi mereka sangat luar biasa, mereka akan berkhayal lebih hebat dibanding isi novel yang dibacanya, sehingga mereka kadang lebih suka membaca novel dari pada nonton film cinema apalagi sinetron. Karena itu, saat novel dibuat versi film seperti contoh yang masih hangat yaitu “Ayat-Ayat Cinta” mereka sangat kecewa dengan cerita film yang jauh dari harapan pencinta novel “Ayat-Ayat Cinta”. Jelas kecewa karena mereka yang sudah membaca novelnya pasti sudah menciptakan imajinasi yang luar biasa hebat, dan sang pembuat film gagal menciptakan film sesuai imajinasi mereka.

Tetapi pendapatku diatas tidak 100% dibenarkan, karena tidak bisa kita memukul rata sifat seseorang yang kita lihat saat itu dengan semua orang. Aku hanya memperhatikan sifat dan kelakuan dari teman-temanku yang benar-benar idealis yaitu memang benar-benar maniak comic dan dengan yang pecinta novel sejati. Karena diluar itu masih banyak yang bersifat berbeda-beda lagi seperti golongan “non blok” yaitu suka comic juga senang membaca novel, maniak comic tetapi bersifat seperti novelers yang kugambarkan diatas atau juga sebaliknya.

Suatu sore aku terlibat dalam suatu diskusi yang dilanjutkan dengan perdebatan dua golongan antara penggemar comic dengan pembaca setia novel-novel. Meskipun aku bukan termasuk kedua-duanya karena aku tipe manusia bukan idealis yaitu semua bacaan entah itu novel ataupun comic yang kuanggap menarik akan kubaca. Dan saat mendengarkan perdebatan mereka ternyata banyak hal-hal menarik yang kudapat.

Bagi maniak comic, membaca novel merupakan kegiatan yang menjemukan, membosankan dan monoton, apalagi jika halamannya super tebal, mereka juga menganggap pembaca novel tidak bisa berekspresi karena hanya bisa membaca tulisan bukan hal lainnya(gambar). Sedangkan bagi penggemar novel menganggap para maniak comic ini tidak suka berpikir keras dan hanya suka menerima masukan informasi yang sudah jelas maknanya, selain itu mereka menganggap para pembaca comic tidak suka bahkan tidak bisa berimajinasi sendiri karena hanya menerima gambaran yang sudah ada di comic.

Dan menurutku sendiri dari sikap dan sifat keduabelah pihak yang bisa mewakili seluruh penggemar comic maupun novel, mereka memang sudah ditakdirkan bagaikan air dan api, langit dan bumi atau hitam dan putih, saling bertolak belakang 360 derajat. Aku melihat kalau pelahap comic memang orangnya tidak kreatif karena mereka hanya bisa menerima “mentah-mentah” apa yang sedang dibacanya, lagi pula comic yang beredar di indonesia hampir 80% berasal dari Jepang, sehingga mereka lebih suka meniru gaya hidup aliran jejepangan seperti JRock, harajuku dan lain-lain. Kalaupun mereka bisa menciptakan comic sendiri biasanya hanya condong ke arah aliran Jepun bukan menciptakan karya dengan ciri khas tersendiri. Tapi dari sisi sosial, mereka lebih mengedepankan life style yang lebih uptodate ketimbang penggemar novel, mereka juga lebih mudah bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Sedangkan dari pihak “novel lovers” mereka jika berbicara maka bahasa yang keluar dari mulutnya lebih bernada filosofis dan akan sulit diterima bagi orang awam, sehingga mereka sedikit kesulitan saat bersosialisasi dengan masyarakat umum, hanya dengan orang-orang yang “berjenis” sama. Kebanyakan mereka juga termasuk golongan dari masyarakat konservatif, yaitu sulit menerima pendapat baru yang lebih “segar”, sehingga kehidupannya cenderung lebih monoton. Tetapi kalau membicarakan soal imajinasi mereka sangat luar biasa, mereka akan berkhayal lebih hebat dibanding isi novel yang dibacanya, sehingga mereka kadang lebih suka membaca novel dari pada nonton film cinema apalagi sinetron. Karena itu, saat novel dibuat versi film seperti contoh yang masih hangat yaitu “Ayat-Ayat Cinta” mereka sangat kecewa dengan cerita film yang jauh dari harapan pencinta novel “Ayat-Ayat Cinta”. Jelas kecewa karena mereka yang sudah membaca novelnya pasti sudah menciptakan imajinasi yang luar biasa hebat, dan sang pembuat film gagal menciptakan film sesuai imajinasi mereka.

Tetapi pendapatku diatas tidak 100% dibenarkan, karena tidak bisa kita memukul rata sifat seseorang yang kita lihat saat itu dengan semua orang. Aku hanya memperhatikan sifat dan kelakuan dari teman-temanku yang benar-benar idealis yaitu memang benar-benar maniak comic dan dengan yang pecinta novel sejati. Karena diluar itu masih banyak yang bersifat berbeda-beda lagi seperti golongan “non blok” yaitu suka comic juga senang membaca novel, maniak comic tetapi bersifat seperti novelers yang kugambarkan diatas atau juga sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: